![]() |
| https://www.google.co.id/search?q=flu&biw=1366&bih=657&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj8wvPQoI3KAhUVCI4KHd62C6kQ_AUIBigB#tbm=isch&q=politik&imgrc=yI-ESUG96DbkTM%3A |
Aroma politik bangsa, yang menyebut diri sedang menjalankan
reformasi, lambat laun kita cium sebagai sesuatu yang amat tidak sedap. Ada
berbagai kebusukan di dalamnya.
Berbagai peristiwa politik akhir-akhir ini, mempertegas
bahwa kita kian jauh ciri cita-cita reformasi. Bagaikan tubuh, politik kita
sudah kehilangan rasa. Ia berjalan dalam kondisi tidak sehat, dengan kata lain,
politik kita mengidap penyakit parah dan sulit diobati. Karena aroma dari dalam
tubuhnya adalah kebusukan.
Definisi Politik adalah bagaimana cara meraih kekuasaan.
Definisi politik machiavelianisme adalah bagaimana cara meraih kekuasaan dengan
berbagai cara, termasuk menipu rakyat, si empunya kedaulatan. Yang pertama kita
lihat sebagai kewajaran dalam perpolitikan di Negara ini, tetapi yang kedua
adalah sesuatu yang ditolak, sebagaimana tercermin dalam landasan kenegaraan
kita. Namun, mengapai justru yang kedua yang sering terjadi?
Mengapa politik bangsa ini penuh pengkhianatan? Jawabnya:
“karena uang!” Mengapa politik bangsa ini tidak sedang mementaskan politik
machiavelianisme! Jadi, jangan heran Gus (Dur), bila Anda mengeluh bahwa anda
sering merasa dikadali, sebab mentalitas bangsa kita masih mentalitas uang.
PENYAKIT politik kita begitu kronis. Penyakit itu ditunjukan
dengan ketidakjelasan arah mau di bawa ke mana bangsa ini. Semua serba tidak
jelas dan seakan dibuat tidak jelas oleh para pelakunya, alias elite-elite
politik.
Hukum dibuat dan diperlakukan sebagai “politik dagang sapi”,
rakyat hanya menjadi dagangan politik. Uang menjadi segalanya. Dan, mereka sama
sekali tidak sadar bahwa itu membuat kita terjerumus ke lubang yang kelam. Dari
jurang yang dalam itu, yang biasa dilakukan hanya keluh kesah mengadu ke bunda
pertiwi yang sudah kehilangan air mata.
Barang dagangan alias komoditas politik itulah yang saat ini
diproduksi besar-besaran dalam berbagai undang-undang yang disahkan lembaga
dewan terhormat. Ironisme itu dapat dilihat, misalnya, dalam UU Kepresidenan
yang tak luput dari fenomena ini. Produk UU di negeri ini selalu berorientasi
kepada kekuasaan, yakni untuk memperkukuh state daripada untuk mengatur rakyat
dan kedaulatanya.
Memang, rakyat dibuat seolah berdaulat, tetapi sebenarnya
rakyat tidak memiliki akses untuk membangun kedaulatan. Jadi, kedaulatan hanya
sekedar slogan. Kedaulatan dimaknai sekedar upacara rakyat guna meniup landasan
kekuasaan pada penguasa. Dengan demikian, kekuasaan selalu menghegemoni
kedaulatan. Kedaulatan yang semula merupakan hak dasar tiap individu telah
direbut paksa oleh kekuasaan. Kekuasaan cenderung menuhankan dirinya. Dia telah
memproduk sebagai lembaga superbody dan antikritik.
![]() |
| https://www.google.co.id/search?q=flu&biw=1366&bih=657&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj8wvPQoI3KAhUVCI4KHd62C6kQ_AUIBigB#tbm=isch&q=politik&imgrc=KPumsQ9orDosGM%3A |
Dugaan rakyat bahwa lembaga rakyat (DPR) memproduksi UU
semata-mata berdasarkan kekuatan uang hamper-hampir bukan lagi menjadi dugaan,
tetapi kepastian politik. Seolah tanpa Uang, tidak ada UU. Jadi, benar bahwa
dalam berpolitik uang menjadi raja. Demi uang, cita-cita untuk membangun
masyarakat sipil yang menhormati norma-norma hukum menjadi sirna. Cita-cita itu
hanya sekedar slogan norma hukum ambisi kekuasaan.
Kekuasaan telah dimaknai sebagai dewa yang harua disembah
dan para pengejarnya akan bertekuk lutut di bawah kakinya. Demi tahta,
pelacuran politik terjadi di mana-mana, “yang penting kamu bisa setor berapa?
Kata “setor” dalam politik saat ini amat menggejala, tidak hanya di
pemerintahan pusat, tetapi juga di daerah. Rakyat sudah tahu, tetapi ia tak
bisa berbuat apa-apa. Sebab, saluran kritik itu sendiri sudah ditutup rapat
oleh kekuasaan dengan menancapkan hegemoni kuat-kuat agar rakyat (secara
politik) terlemahkan.
Ada lagi fenomena, politik yang saat ini menjadi barang
dagangan itu sedang dipermainkan para komparador politik. Mereka tidak berpikir
bagaimana rakyat bisa sejahtera melalui politik, tetapi yang penting adalah
bagaimana dirinya meraih keuntungan sebesar-besarnya.
POLITIK hanya dimaknai bagaimana saya bisa berkuasa.
Seakan-akan tertancap kuat bahwa kekuasaan itu berlogika amat special, ia bisa
memberikan hak istimewa kepada peraihnya, semua boleh dilakukan untuk diri
sendiri. Seolah kekuasaan itu tidak bisa disentuh siapapun. Dan, logika dibalik
semua itu adalah logika ksatria. Bahwa pemilik pedagang tak bisa dikalahkan.
Heroisme lantas menjadi kultur untuk membangun sejarah para ksatria.
Logika ksatria adalah logika kekuasaan senjata. Pilihan ini
membangun kultur bangsa yang amat mengerikan, yang penting adalah kekuatan
otot. Kekuatan otot yang digunakan para penguasa saat ini ditunjukan dengan
munculnya berbagai UU berbau fasis. Akal sehat tidak lagi menjadi pilihan.
Rakyat harus diletakan pada marjin yang benar-benar tak menjangkau untuk
mengkritik UU. Rakyat hanya boneka politik!
Di sinilah letak problem bangsa ini! Kita tidak berani
melihat masa lalu sebagai titik refleksi untuk membangun kultur baru. Kultur
politik yang selama ini dibangun mengarah pada Ken Arok-isme. Kultur ini
sungguh memuja kedayaan otot sebagai pilihan dalam segala pengambilan
keputusan. Yang diambil jarang yang mempertimbangkan akal sehat. “Asal gue
menang, elu mau apa? Kalau mau mengkritik gue, lawan gue dengan kekuatan yang
elu punya, jangan main kritik melulu!”
Kepada elite politik yang masih dipercaya rakyat, sadarilah
bahwa kecenderungan seperti ini amat memuncak dalam berbagai adegan politik
yang sering dipentaskan. Dalam melihat rakyat, jangan samakan dengan cara
juragan melihat buruh, dimana ia bisa ditinggalkan kapan sang juragan suka.
Kalau memang perilaku elite masih seperti itu, jangan heran
bila hubungan yang tercipta antara rakyat dan elite sama halnya hubungan antara
patront dan klien. Partisipasi politik, kritik politik dan emansipasi politik
sama sekali nol! “Semuanya dibuat seolah berpartisipasi, seolah mengkritik dan
seolah beremansipasi.” Padahal, semuanya tak ada artinya.
Yang terjadi di Indonesia hari ini, dalam fragmen buruk
tingkah laku elite politik, sebenarnya adalah kedangkalan roh reformasi.
Alih-alih penguasa dapat mengampu alam piker rakyat yang selama ini
teralienasi. Posisi penguasa rakyat yang terfragmentasi sedemikian rupa tetap
meletakan rakyat pada dimensi subordinat. Rakyat tidak pernah beranjak menjadi
subjek. Terus menjadi obyek. Negara sibuk dengan bahasanya sendiri, yang kian
hari kian tidak dimengerti lawan bicara (rakyat).
Keterpisahan dimensi negara (penguasa) atas rakyat jelas
merupakan dalil yang amat tepat untuk menoleh pada adanya praktik anti
demokrasi di sebuah bangsa. Kejadian ini sebenarnya lebih merupakan kondisi
yang sengaja direkayasa, dimana negara secara rapid an sistematis meninggalkan
rakyat. Ini ditunjukan dengan adanya indikasi, praktik totalitarianism yang
terjadi adalah pengejawatahan kepentingan elite politik temporal.
Peranan Mahasiswa dalam Politik
Dalam pergolakan
politik ditanah ini, peranan mahasiswa sangatlah besar untuk menentukan
kemajuan bangsa. Sejarah membuktikanya bahwa mulai dari mengusir penjajah,
pembubaran PKI, revolusi dan reformasi mahasiswa selalu berada pada barisan
depan.
Oleh karena itu,
tidaklah berlebihan apabila pemerintah memberikan satu penghormatan dan
apresiasi yang besar terhadap peranan mahasiswa dalam memajukan bangsa ini.
Namun kenyataanya
ini justru sebalinya, pemerintah masih menganggap gerakan mahasiswa dipandang
negatif, sehingga demo saja malah dibatasi, bahkan tidak boleh membawa pengeras
suara.
Untuk itu, biar
mahasiswa bisa berlatih berpolitik yang baik, maka di kampus-kampus
diperbolehkan untuk membuat partai-partai local yang bertujuan menyampaikan
aspirasi mahasiswa, dengan demikian adalah apabila mahasiswa tidak aktif, maka
tidak menutup kemungkinan akan bisa menjadi politisi yang handal di negeri ini.



0 Komentar
Berkomentarlah dengan bijak